Gerbang utama tradisional Bali beratap alang-alang atau genteng dengan ukiran batu padas dan bata merah. Memiliki batas lebar selebar depa (rentang tangan) pemilik rumah menurut ukuran asta kosala kosali.
Berdasarkan pedoman Asta Kosala Kosali, bukaan pintu angkul-angkul diukur menggunakan satuan satu depa (rentangan kedua tangan) kepala keluarga ditambah satu rai atau akacing agar leluasa dilalui usungan upakara dan membawa kesejahteraan bagi keluarga.
Pawongan & Palemahan: Gerbang penyambutan yang menghargai sirkulasi sesama manusia (tetangga & tamu) serta menjadi batas fisik yang harmonis antara pekarangan hunian dengan alam lingkungan sekitar.
Di Omah Belumbungan, angkul-angkul dibangun dengan material bata merah gosok bertekstur rapat tanpa spesi tebal, dipadukan batu paras padas berukir ragam hias khas Bali tengah. Di atas ambang pintu, atap alang-alang berlapis disusun rapi untuk menahan panas dan menciptakan nuansa tropis yang sejuk sejak langkah pertama memasuki kawasan.